sukur nababan top leader melia nature indonesiaNAMANYA tiba-tiba mencuat dalam kehidupan politik Kota Bekasi pascapilkada. Namun, sangat sedikit orang yang tahu siapa Sukur Nababan sebenarnya. Ia hanya dikenal sebagai Manajer Persipasi Kota Bekasi. Padahal, dialah salah seorang tokoh kunci di balik kemenangan Mochtar Mohamad-Rahmat Efendi. Sukur adalah konseptor Konser Tapal Batas yang sempat menghebohkan kota gabus itu.

Sukur Nababan adalah profil yang rendah hati, selalu merunduk, dan tidak mau membuka diri kepada publik. Setiap kali ditanya apa pekerjaannya, ia hanya menjawab, main dan jalan-jalan. Itu juga yang membuat Mochtar Mohamad sempat bingung ketika berkenalan dengan Sukur, pertengahan November 2007.

“Pekerjaan saya adalah memberi semangat untuk sukses kepada orang lain,” kata Sukur sambil tersenyum. Sukses, sebuah kata sederhana, namun didambakan semua orang agar terwujud dalam kehidupan nyata. Banyak orang bersyukur bila berhadapan dengan Sukur. Ia adalah motivator ulung, tak pernah mematahkan harapan orang lain.

“Setiap orang dilahirkan untuk sukses, masalahnya adalah seberapa siap Anda untuk menjadi orang sukses,” katanya. Ia selalu mengatakan itu dengan dengan intonasi tepat, tatapan tajam, dan gerak tubuh yang ekspresif. Kalimat dan ekpresinya seolah menjadi mantra mujarab untuk membangkitkan semangat lawan bicaranya. Ribuan hati orang telah tergerak untuk mengubah nasib setelah mendengarkan Sukur bicara.

Dia menjelaskan, ada 3 parameter kesuksesan, yaitu kemandirian ekonomi, kesehatan, dan dicintai oleh orang lain. Orang sukses, menurut Sukur, selalu menggunakan akalnya untuk mencari solusi atas beragam permasalahan dan kemudian mengerjakannya. Sementara orang gagal, selalu menjadikan masalah sebagai alasan untuk lari terbirit-birit.

“Tapi yang terpenting adalah seberapa berarti hidup Anda bagi orang-orang yang Anda cintai,” kata pria kelahiran 14 Oktober 1968 ini.

Kunci untuk menjadi orang yang dicintai adalah pengabdian yang tulus. Sukur berkisah, semangat pengabdian yang ia miliki tidak lepas dari pengaruh keluarganya. Orang tuanya yang berasal dari Sumatra Utara adalah seorang guru yang sempat mengenyam pendidikan di Sumatera Barat, tempat Sukur dilahirkan. Masa kecilnya dihabiskan berpindah-pindah, mengikuti sang ayah yang keluar-masuk hutan di pedalaman Tapanuli untuk mendirikan sekolah. Sukur sendiri mengaku tidak ingat berapa banyak sekolah yang telah didirikan oleh ayahnya, namun yang pasti bekas murid sang ayah kini banyak yang menjadi orang.

Beres kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatra Utara (USU), Sukur bekerja berpindah-pindah. Ini adalah bagian dari strategi untuk menambah pengetahuan dan memperluas jaringan kerjanya. Namun setelah bekerja menjadi “orang gajian” selama 13 tahun, ia merasa tidak dapat berkembang secara maksimal. Akhirnya, Sukur memutuskan untuk berwirausaha meskipun sempat terseok-seok pada permulaannya. Pilihannya tepat, dalam kurun lima tahun ia menjadi pengusaha sukses sekaligus motivator yang kerap diundang ke berbagai daerah untuk menyebarkan semangat. (JU-16) ***

*Dari Harian PIKIRAN RAKYAT:

http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=17936